PENELITI UGM KEMBANGKAN KAPSUL POLIHERBAL UNTUK MENINGKATKAN PRODUKSI ASI: INOVASI BERBASIS HERBAL
Peneliti UGM Kembangkan Kapsul Poliherbal untuk Meningkatkan Produksi ASI: Inovasi Berbasis Herbal
Penulis: Fara Silvia Yuliani
Rendahnya pemberian ASI eksklusif di Indonesia menjadi salah satu penyebab tingginya angka stunting, yang hingga saat ini masih menjadi masalah serius dalam kesehatan masyarakat. Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023, prevalensi stunting di Indonesia tercatat sebesar 21,5%, sedikit menurun dibandingkan angka 21,6% pada tahun sebelumnya. Meski demikian, angka ini masih berada di atas standar yang ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO), yaitu di bawah 20%. Pemerintah Indonesia menargetkan prevalensi stunting dapat ditekan hingga 14% pada tahun 2024, namun pencapaian ini membutuhkan intervensi menyeluruh di berbagai sektor, termasuk dukungan terhadap pemberian ASI eksklusif. ASI eksklusif sangat penting untuk mendukung pertumbuhan optimal bayi, terutama selama enam bulan pertama kehidupannya. Namun, beberapa ibu menyusui menghadapi tantangan dalam produksi ASI, yang membuat mereka kesulitan memenuhi kebutuhan nutrisi bayi mereka. Permasalahan ini menuntut solusi inovatif yang tidak hanya aman tetapi juga berbasis penelitian untuk menjawab kebutuhan para ibu menyusui.
Sebagai respon terhadap masalah tersebut, tim peneliti Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK), Universitas Gadjah Mada (UGM) yang terdiri dari Dr. Ahmad Hamim Sadewa, Ph.D., Prof. Dr. Mustofa, M.Kes., Apt., dan drg. Fara Silvia Yuliani, M.Sc., Ph.D., mengembangkan inovasi berupa kapsul poliherbal galagtagok. Kapsul ini mengombinasikan kekuatan tiga tanaman lokal, yakni daun katuk (350 mg), biji klabet (150 mg), dan daun kelor (50 mg). Ketiga bahan ini telah dikenal secara tradisional memiliki manfaat untuk mendukung produksi ASI, dan penelitian ilmiah sebelumnya menunjukkan bahwa kombinasi ekstrak ini mampu memicu ekspresi gen prolaktin dan oksitosin, dua hormon penting dalam proses laktasi.
Pengembangan kapsul poliherbal ini tidak hanya didukung oleh hasil penelitian, tetapi juga telah melalui proses standarisasi ketat sesuai dengan Cara Produksi Obat Tradisional yang Baik (CPOTB). Hasil uji toksisitas menunjukkan bahwa produk ini tidak berbahaya dengan nilai LD50 > 5000 mg/kgBB, sehingga aman dikonsumsi oleh ibu menyusui. Keunggulan lain dari produk ini adalah efek sinergis dari kombinasi ekstrak yang memberikan manfaat lebih besar dibandingkan penggunaan ekstrak tunggal.
Pengembangan produk ini melibatkan kerjasama strategis dengan PT Swayasa Prakarsa, sebuah perusahaan berbasis di Yogyakarta yang memiliki pengalaman luas dalam produksi sediaan herbal. Kolaborasi ini bertujuan untuk memastikan kualitas dan kapasitas produksi skala komersial sesuai standar internasional. Dukungan dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) melalui Program Bantuan Biaya Luaran Prototipe juga memungkinkan pengembangan kapsul ini hingga tahap produksi skala pilot. Langkah berikutnya adalah pengajuan produk ini sebagai Obat Herbal Terstandar (OHT) ke Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) serta pengembangan lebih lanjut menjadi produk fitofarmaka.
Target utama produk ini adalah ibu menyusui, terutama ibu baru dan ibu bekerja yang membutuhkan solusi aman dan praktis untuk mendukung produksi ASI mereka. Dengan potensi pasar yang besar, kapsul poliherbal ini juga dapat dimanfaatkan oleh klinik laktasi dan fasilitas kesehatan lainnya sebagai alternatif bagi ibu yang menghadapi kendala dalam menyusui.
Melalui inovasi ini, tim peneliti UGM berharap dapat memberikan kontribusi nyata dalam mendukung kesehatan ibu dan bayi, sekaligus membantu menurunkan angka stunting di Indonesia. Selain itu, pengembangan kapsul poliherbal ini juga diharapkan mampu memperkuat industri fitofarmaka lokal dan meningkatkan daya saing Indonesia di pasar herbal global.
Leave a Reply
Want to join the discussion?Feel free to contribute!