BPJS Wajibkan Skrining Kesehatan, Mahasiswa Bantu Warga Sleman Deteksi Hipertensi dan Kolesterol serta Edukasi Penggunaan Herbal dan Suplemen Secara Tepat

Sejak 1 Januari 2026, setiap peserta BPJS Kesehatan diwajibkan mengisi Skrining Riwayat Kesehatan (SRK) minimal setahun sekali. Kebijakan ini menjadi syarat untuk berobat di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP), seperti puskesmas dan klinik pratama. Tujuannya, memetakan risiko penyakit tidak menular (PTM) yang kerap datang tanpa gejala, agar bisa ditangani lebih dini dan mencegah komplikasi di kemudian hari. Pemerintah melalui Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 3 Tahun 2026 tentang Penanggulangan Penyakit yang berlaku efektif 11 Maret 2026 juga menekankan upaya penanggulangan PTM melalui promosi kesehatan, pengendalian faktor risiko, deteksi dini, hingga penanganan kasus. Promosi kesehatan dilakukan kepada individu, kelompok masyarakat, maupun pemangku kepentingan, baik yang berisiko PTM maupun tidak. Merespons kebijakan tersebut, tim mahasiswa dari FKKMK UGM melakukan skrining massal kolesterol dan hipertensi di Padukuhan Nyamplung Kidul, Desa Balecatur, Sleman, pada 19 April 2026. Kegiatan ini diikuti lebih dari 40 warga, terutama ibu-ibu PKK dan kader kesehatan desa. Belasan mahasiswa dari program studi pendidikan dokter, keperawatan, dan gizi UGM terlibat langsung. Antusiasme warga terlihat tinggi.
Dr. rer.nat. apt. Arko Jatmiko Wicaksono, selaku koordinator acara sekaligus Sekretaris Pusat Kedokteran Herbal UGM dan dosen Departemen Farmakologi dan Terapi FK-KMK UGM, mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan wujud nyata Tri Dharma Perguruan Tinggi. “Dosen, mahasiswa, dan staf berkarya, memberdayakan, serta berkontribusi dalam pemecahan masalah riil di masyarakat,” ujarnya. Menurut Arko, seiring upaya serius Kementerian Kesehatan mengantisipasi lonjakan penderita PTM, seperti diabetes melitus, hipertensi, penyakit ginjal kronik, dan jantung koroner, kegiatan ini menjadi sumbangsih nyata UGM dalam mensukseskan kebijakan nasional di level akar rumput. Tak hanya skrining, mahasiswa juga memberikan edukasi tentang kebiasaan sehari-hari di rumah yang sangat berpotensi memicu hipertensi dan kolesterol. Mulai dari konsumsi garam dan gula berlebih, konsumsi santan, jeroan, minyak jelantah, dan gorengan, hingga kebiasaan begadang dan stres yang secara langsung dapat memacu peningkatan kadar kolesterol dan dalam jangka panjang meningkatkan tekanan darah.
Untuk meluruskan informasi yang kerap keliru di masyarakat, mahasiswa juga membekali warga dengan fakta dan mitos seputar penyakit tidak menular serta cara mengatasinya, termasuk penggunaan obat-obatan dan suplemen dengan tepat. Berbagai pertanyaan terkait konsumsi herbal yang tepat sebagai maintenance terapi bagi penderita hipertensi juga mengemuka. Pertanyaan menarik seperti konsumsi selederi, mentimun, dan bawang putih sebagai penurun tekanan darah yang ditanyakan oleh masyarakat dijawab oleh tim pengabdian, dengan menyertakan evidence based terbaru yang tersedia pada saat ini. Dalam acara tersebut, setiap warga juga memperoleh kartu kendali yang berisi riwayat hasil skrining tensi, kolesterol, asam urat, dan gula darah, sehingga memudahkan pemantauan riwayat kesehatannya sendiri. Keberhasilan program diukur melalui pretest dan posttest untuk memastikan pemahaman edukasi tercapai secara maksimal.
Kegiatan yang diberi nama “SIAP MONITOR: Sistem Integrasi Antisipasi dan Monitoring Terpadu untuk Pengendalian Kolesterol dan Hipertensi” ini juga berkolaborasi dengan Puskesmas Gamping I sebagai instruktur lapangan dan penyedia supervisi.

Universitas Gadjah Mada
Leave a Reply
Want to join the discussion?Feel free to contribute!