Jangan Tergiur Glowing Instan: Mengenal Risiko dan Keamanan Kosmetik Herbal

Istilah “natural”, “herbal”, dan “bebas bahan kimia” kini semakin mudah ditemukan dalam berbagai produk kecantikan. Mulai dari skincare, masker wajah, hingga body care, banyak produk berlomba-lomba menawarkan klaim alami yang dianggap lebih aman bagi kulit. Tidak sedikit pula tren DIY skincare bermunculan di media sosial dengan bahan sederhana seperti lemon, kopi, hingga air beras. Namun, apakah semua yang alami benar-benar aman? Pertanyaan inilah yang dibahas dalam sesi IG Live yang diselenggarakan oleh Pusat Kedokteran Herbal FK-KMK UGM bersama drg. Fara Silvia Yuliani, M.Sc., Ph.D dan dipandu oleh Dr. Sci. apt. Beni Lestari, M.Bio, Sci, Diskusi berlangsung santai namun penuh informasi penting seputar kosmetik herbal yang kini semakin digemari masyarakat.

Dalam sesi tersebut, drg. Fara menjelaskan bahwa kosmetik herbal merupakan produk perawatan tubuh yang mengandung bahan herbal atau tanaman alami untuk membantu merawat dan mempercantik kulit. Menurutnya, penggunaan bahan alam untuk kecantikan sebenarnya bukan hal baru. Tradisi lulur di Indonesia hingga perawatan tubuh ala Cleopatra menjadi bukti bahwa pemanfaatan bahan alami sudah dilakukan sejak lama.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa label “alami” tidak otomatis membuat suatu produk aman digunakan. “Bahan alami tetap bisa menimbulkan iritasi kalau formulasi dan konsentrasinya tidak tepat,” jelasnya. Ia mencontohkan tea tree oil yang populer digunakan untuk jerawat. Dalam kadar tertentu bahan ini memang bermanfaat, tetapi penggunaan berlebihan justru dapat memicu iritasi kulit. Hal yang sama juga berlaku pada lemon atau jeruk nipis yang sering digunakan sebagai campuran skincare rumahan karena dianggap kaya vitamin C. Padahal, tingkat keasamannya yang tinggi dapat merusak skin barrier apabila diaplikasikan langsung ke wajah.

Fenomena skincare yang marak di media sosial juga menjadi perhatian dalam diskusi tersebut. Menurut drg. Fara, penggunaan bahan dapur seperti kopi, gula, atau baking soda secara langsung pada kulit perlu dilakukan dengan sangat hati-hati. “Scrub yang terlalu kasar bisa menyebabkan over-exfoliation dan merusak lapisan pelindung kulit,” ujarnya. Selain itu, produk tersebut umumnya tidak melalui uji keamanan maupun uji mikrobiologi sehingga lebih rentan terkontaminasi bakteri atau jamur. Kondisi ini justru dapat memperburuk masalah kulit, terutama bagi pemilik kulit sensitif atau berjerawat. Dalam sesi tersebut, masyarakat juga diajak menjadi konsumen yang lebih kritis terhadap produk kosmetik yang digunakan. Salah satu tips yang dibagikan adalah prinsip “KLIK”, yakni memeriksa Kemasan, Label, Izin edar, dan Kedaluwarsa produk sebelum membeli maupun menggunakan kosmetik.

drg. Fara juga mengingatkan agar masyarakat tidak mudah tergiur dengan klaim hasil instan yang banyak beredar di media sosial dan marketplace. “Kalau baru beberapa hari pakai langsung dijanjikan putih atau glowing instan, justru kita perlu lebih waspada,” ungkapnya. Ia menambahkan bahwa tujuan skincare seharusnya bukan membuat kulit “tersiksa demi cepat glowing”, melainkan membantu kulit menjadi lebih sehat, nyaman, dan terawat sesuai kebutuhannya.

Melalui kegiatan ini, Pusat Kedokteran Herbal FK-KMK UGM berupaya menghadirkan edukasi kesehatan yang lebih dekat dengan masyarakat melalui media digital. Diskusi semacam ini dinilai penting di tengah derasnya arus informasi dan promosi produk kecantikan di media sosial.

Kegiatan edukatif ini juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 tentang Good Health and Well-being melalui peningkatan literasi kesehatan masyarakat, SDG 4 tentang Quality Education melalui penyebaran edukasi berbasis ilmiah, serta SDG 12 tentang Responsible Consumption and Production dengan mendorong masyarakat menjadi konsumen yang lebih cerdas dan bertanggung jawab dalam memilih produk kosmetik.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *